Sleman - Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN-Suka) Yogyakarta akan melakukan konseling terhadap puluhan mahasiswi bercadar yang ada di kampus. Bila pasca konseling mahasiswi tersebut terindikasi berpaham radikal, pihak kampus akan mengambil sanksi tegas.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yudian Wahyudi, menjelaskan tim konseling yang akan dibentuk terdiri dari lima dosen di setiap fakultas. Para dosen tersebut berasal dari berbagai bidang studi dan ditugaskan memberikan arahan kepada mahasiswi bercadar.

Mengutip Tirbun Jogja, dari data yang dilakukan sejak 28 Februari, diketahui ada 41 mahasiswi dari berbagai fakultas yang memakai cadar.
Mahasiswi yang sampai saat ini masih memakai cadar akan diberi bimbingan konseling.

Pemberlakuan peraturan pakaian bercadar ini dengan cepat menyita perhatian publik
Ada yang mendukung, adapula yang mengkritisi kebijakan tersebut.

Di laman Twitter, bahasan mengenai kebijakan pakaian bercadar ini turut ramai diperbincangkan.
Berbagai opini dari warganet pun bermunculan menanggapi kebijakan tersebut.

Mantan Ketua Mahkaman Konstitusi, Mahfud MD turut memberikan komentarnya.
Menjawab pertanyaan warganet yang ditujukan kepadanya, pria kelahiran Sampang ini menjawab dengan tiga kalimat.

"Tidak ada yang berhak melarang orang menutup diri dengan cara berpakaian apa saja. Tapi jangan pula menista orang yang berpakaian biasa saja sbg melanggar agama. Pakaian itu boleh apa saja, asal sopan saja," begitu tulisnya di akun Twitter menjawab pertanyaan warganet.

Mahfud MD juga menanggapi pertanyaan lainnya seputar bijak tidaknya keputusan Rektor UIN terkait hal itu.
Menurutnya, soal tata cara berpakaian itu merupakan wewenang Rektor.

"Kalau itu wewenang rektor UIN. Buys, ahli hukum administrasi negara, mengatakan orng yg mengikatkan diri (spt bekerja atau belajar) di suatu institusi hrs rela jika hak asasinya diatur atau dikurangi sesuai dgn kewenangan pimpinan institusinya, spt, jam tidur dan berpakaian,"jelasnya.
 
Top