Muaro Padang - Pernahkan anda berkunjung ke Lembaga Permasyarakatan ? Saya punya cerita ...

Orang awam menyebutnya penjara. Pada suatu hari saya berkunjung ke LP Muaro Padang menemui teman yang menjadi penghuni lapas. Dulu dia rekan saya ditempat bekerja yang lama namun narkoba membuatnya sampai di LP Muaro.

Saya menunggu teman itu di aula dan sisanya beberapa kelompok keluarga dan kerabat tersebar di hall tersebut.

Ada dua orang laki-laki paruh baya sedang membersihkan sampah dan saya tawari beberapa potong roti. Pada momen tersebut mereka berkata padaku tentang pengalamannya di penjara. Sambil menyeruput kopi panas yang ku pesan di kafe dalam lapas, mereka duduk sambil merokok.

Makanan, rokok dan uang begitu mewah dirasakan oleh warga lapas. Ketika mereka mendapatkannya dari keluarga atau kerabat maka mereka begitu menikmatinya. Puas dengan kopi dan rokok, mulailah mereka bercerita tentang perlakuan warga binaan lama terhadap warga binaan baru.

Narapidana yang lawas biasanya akan mencari tahu ke polisi kasus apa yang membuat narapidana baru masuk penjara.

Jika seseorang dengan kasus pemerkosaan atau penyodoman, intinya segala sesuatu tentang pelecehan terhadap anak-anak maka penjara adalah mimpi buruk. Dia akan menjadi pelampiasan birahi oleh napi lawas. Singkatnya saja, penisnya dipukuli, anusnya dibaluri balsem dan disumbat dengan wadah balsem itu sendiri.

Jika seseorang dengan kasus narkoba maka penjara adalah tempat hartanya dieksploitasi. Pecandu narkoba dianggap mampu secara finansial, sehingga napi lawas akan memintanya menyediakan uang atau makanan. Keluarga napi baru ini selalu menyuplai makanan ke penjara seperti hajatan karena makanan yang jumlahnya begitu banyak dan tergolong enak.

Jika seseorang dengan kasus pembunuhan, maka penjara bukan tempat yang menakutkan. Ia memiliki 'tempat' dan dihargai oleh napi lawas.

Jika seseorang berbelit-belit dalam mengungkapkan informasi, maka penjara adalah gelombang rasa sakit. Jari tangannya dijepit pintu berkali-kali, jari kakinya ditindih kursi dan diduduki, daun telinganya disteples, kuku dan giginya dicabut dengan tang dan kakinya dipukuli dengan linggis.
 
Top