BERBAGI
Bincang Bahari yang diselanggarakan Media center Kementrian Kelautan dan perikanan

JAKARTA (2/9), DetakNusantara – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki program terobosan untuk menggenjot produktivitas dan kontinuitas budidaya udang di Indonesia. Program terobosan untuk mencapai target produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton per tahun pada 2024 sehingga Indonesia bisa menguasai pasar udang dunia.

Sebagai wujud implementasi program terobosan, KKP bekerjasama dengan Pemerintah Daerah segera membangun tambak udang berbasis kawasan seluas 100 hektare di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Pembangunan fisik direncanakan dimulai tahun depan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu mengatakan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen akan menjadi percontohan yang nantinya dapat direplikasi di daerah lain Indonesia.

“Kita membuat modelling budidaya udang berbasis kawasan. Ini yang akan kita coba dorong terus. Alhamdulillah, tahun ini kami berkolaborasi dengan Pemkab Kebumen. Pak Bupati sudah mendukung,” ujar Tebe -sapaan Tb Haeru Rahayu- saat menjadi narasumber dalam program Bincang Bahari KKP berjudul ‘Terobosan Kuasai Pasar Udang Dunia’ yang disiarkan secara daring, Kamis (2/9/2021).

Pembangunan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen menggunakan pertimbangan ekologi dan ekonomi. Sehingga sasarannya tidak hanya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pendapatan asli daerah, tapi juga kelestarian ekosistem.

Untuk menjamin kelestarian ekosistem ini, kata Tebe, tambak udang berbasis kawasan di Kebumen dilengkapi dengan tandon air dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Infrastruktur lainnya berupa water intake, saluran outlet, laboratorium, gudang pakan, bangunan pasca panen, rumah genset, rumah jaga tambak, dan jalan produksi.

“Paling pokok, tambak ramah lingkungan sesuai prinsip blue ekonomi. Tidak merusak mangrove, ada water treatment, IPAL, tandon. IPAL ini yang paling pokok, sehingga sisa proses budidaya tidak langsung dirilis ke laut, tapi ada treatment. Kita ingin tetap menjaga kondisi ekologi sesuai dengan standar,” ungkap Tebe.

Melalui skema tambak udang berbasis kawasan di lahan 100 hektare di Kebumen, KKP menargetkan peningkatan produksi menjadi 80 ton/hektare/tahun. Terget tersebut diyakini Tebe bisa dicapai sebab tambak udang berbasis kawasan menggunakan pendekatan saintifik. Disamping itu, KKP juga mendukung penuh dari sisi pendampingan dan permodalan.

Selain skema tambak udang berbasis kawasan, KKP memiliki terobosan lain yakni tambak udang terintegrasi dengan penggunaan lahan yang lebih luas yakni sekitar 1.000 hektare. Kemudian ada juga terobosan revitalisai tambak udang tradisional yang luasnya mencapai 5.000 hektare di seluruh Indonesia. Revitalisasi untuk meningkatan volume produksi dari 0,6 ton per hektare menjadi 2 ton per hektare.

Terobosan-terobosan ini kata Tebe, digagas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono untuk mencapai target produksi 2 juta ton produksi udang nasional pada 2024.

“Pada 2019-2020 produksi udang nasional mencapai 856.753 ton, padahal mimpi menjadi 2 juta ton. Waktu kita tidak banyak menuju 2024, sehingga butuh terobosan-terobosan,” terangnya.

Tebe juga optimis, pembangunan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen akan menyerap banyak tenaga kerja, meningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dan menambah devisa negara. Setidaknya dibutuhkan 1.000 tenaga kerja lokol untuk mendukung jalannya program terobosan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen.

“Jangan sampai kami membangun sesuatu di Kebumen tapi masyarakat hanya menjadi penonton. Ini menyalahi. Tapi kami mohon juga sama Pak Bupati untuk menyiapkan SDM yang sesuai,” pungkas Tebe.

Skema tambak udang berbasis kawasan tidak hanya untuk menggenjot volume dan kualitas udang tapi juga kontinuitas kegiatan budidaya. Sebab selama ini, kegiatan budidaya di Kebumen cenderung tidak bertahan lama lantaran sejumlah faktor, di antaranya ekosistem tambak yang sudah terkontaminasi penyakit dan permodalan.

“Tambak-tambak rakyat di Kebumen setelah kami pelajari, panen pertama untung, panen kedua untung, panen ketiga pindah. Terus begitu, sehingga perlu segera dibenahi,” ungkap Bupati Kebumen Arif Sugiyanto yang juga menjadi narasumber dalam program Bincang Bahari.

Kebumen sangat cocok menjadi lokasi tambak udang berbasis kawasan sebab didukung oleh berbagai faktor. Mulai dari ketersediaan lahan, sumber daya manusia, hingga kondisi air pantai yang cukup bersih dan sehat.

Pihaknya menyambut antusias pembangunan tambak udang berbasis kawasan untuk peningkatan pendapatan daerah dan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Mengenai lahan tempat pembangunan tambak berbasis kawasan dipastikannya sudah clear and clean, baik dari sisi administrasi, hukum, maupun sosial masyarakat.

“Ide dari Pak Menteri luar biasa. Insya Allah kalau konsisten dilaksanakan, Insya Allah target dua juta ton (2024) bisa tercapai untuk kesejahteraan,” pungkasnya.

Pembangunan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen juga disambut baik oleh Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Jateng Ilham Priyanto. Menurutnya, ekosistem tambak tetap sehat harus menjadi perhatian KKP dalam mengembangkan kawasan tambak berbasis kawasan agar kegiatan budidaya berjalan berkesinambungan.

Disamping itu, pengenalan lingkungan juga menjadi kunci penting sebab wilayah pantai selatan memiliki karakteristik lingkungan yang cukup unik.

“Kami sangat mendukung sekali, semoga di Kabupten Kebumen bisa berjalan kontinu. Untuk itu perlu diperhatikan ekosistem dan lingkungan tambak. Fluktuasi suhunya di pantai selatan misalnya, bukan main. Sore bisa 33 derajat (Celcius) begitu paginya turun menjadi 26. Ini bisa memicu udang stres dan sebagainya,” ungkap Ilham.

Dukungan pembangunan tambak udang berbasis kawasan di Kebumen juga datang dari Chief of Staff eFishery Chrisna Aditya. Menurutnya, pemilihan komoditas udang untuk digenjot produktivitasnya oleh Pemerintah, sangat tepat sebab kebutuhan pasar dunia sangat besar.

“Market udang sangat potensial baik untuk devisa negara, lapangan kerja, maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat di sejumlah daerah. Tinggal bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi yang kita punya,” ujar Ilham.

Sementara itu, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran Yudi Nurul Ihsan menilai Indonesia bisa menjadi negara penghasil udang terbesar di dunia jika angka 2 juta ton per tahun tercapai.

Menurutnya, perlu adanya standardisasi di berbagai sisi untuk mencapai target peningkatan dan kualitas produksi udang nasional. Mulai dari standardisasi farming dan balai, standardisasi SDM, standardisasi induk, benih, dan pakan.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan peningkatan ekspor udang nasional merupakan salah satu pendorong yang akan menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu, Menteri Trenggono memasukkan peningkatan produksi udang sebagai salah satu dalam tiga program terobosan KKP periode 2021-2024. (team)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here