'/> DETAK NUSANTARA | PANDUAN MASA DEPAN Gangguan Lalat Berulang, Peternak Didesak Segera Berbenah - DETAK NUSANTARA | PANDUAN MASA DEPAN

Gangguan Lalat Berulang, Peternak Didesak Segera Berbenah

 


DETAK NUSANTARA | RIAU, Keluhan warga terkait gangguan lalat yang diduga berasal dari aktivitas kandang ayam di kawasan Jalan Lingkar Ujung Batu, Dusun Sei Danto, Desa Ujung Batu Timur, Kecamatan Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu, kembali mencuat. Warga mendesak pihak peternak segera melakukan pembenahan menyeluruh terhadap pengelolaan kandang agar persoalan tersebut tidak terus berulang, Sabtu (3/10/2026).

Gangguan lalat disebut kembali muncul dalam jumlah banyak hingga masuk ke kawasan permukiman, rumah warga, warung, serta lingkungan sekolah. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar lokasi peternakan.

Warga meminta pihak yang terlibat dalam pengelolaan peternakan tidak saling melempar persoalan mengenai kepemilikan maupun pengelolaan kandang. Menurut masyarakat, persoalan utama bukan sekadar siapa pemilik kandang, tetapi siapa yang bertanggung jawab memastikan kegiatan peternakan berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitar.

Sejumlah warga mengaku gangguan lalat bukan hanya terjadi sesekali. Pada waktu tertentu, terutama ketika kondisi lingkungan sekitar kandang lembap dan aktivitas pengelolaan kotoran meningkat, keberadaan lalat disebut lebih banyak terlihat di sekitar permukiman.

Masyarakat berharap kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi serius bagi pihak peternak. Pengelolaan kandang dinilai tidak cukup dilakukan ketika keluhan sudah muncul, tetapi harus dilakukan secara rutin dan mengikuti standar operasional prosedur (SOP).

Warga juga menilai pengendalian lalat harus dilakukan dengan menangani sumber persoalannya. Kebersihan kandang, pengelolaan kotoran ayam, sisa pakan, saluran air, serta limbah peternakan disebut perlu menjadi perhatian utama.

Salah seorang warga, Tumino (56), mengatakan persoalan gangguan lalat sebelumnya telah disampaikan langsung kepada pihak pengelola kandang. Masyarakat bersama pihak kandang bahkan telah melakukan mediasi untuk mencari jalan keluar atas keluhan tersebut.

Dalam mediasi tersebut, pihak kandang melakukan sejumlah langkah jangka pendek untuk mengurangi gangguan lalat. Namun, warga berharap langkah tersebut tidak berhenti pada penanganan sementara, melainkan dilanjutkan dengan pembenahan tata kelola kandang secara menyeluruh.

Hal senada disampaikan Wrs. Ia mengatakan dalam mediasi yang berlangsung pada 24 September 2026, pihak kandang memberikan sejumlah perlengkapan untuk mengurangi gangguan lalat, di antaranya lem lalat dan cairan semprot.

"Dalam mediasi tersebut, pihak kandang memberikan lem lalat dan cairan semprot," ungkap Wrs saat diwawancarai tim awak media.

Menurut Wrs, pemberian perlengkapan tersebut dapat membantu mengurangi lalat untuk sementara waktu. Namun, apabila sumber berkembang biaknya tidak ditangani, gangguan serupa dinilai berpotensi kembali terjadi.

Warga kemudian meminta pihak peternak tidak hanya mengandalkan lem lalat maupun cairan semprot. Upaya tersebut dinilai perlu dibarengi dengan pengelolaan kebersihan kandang yang lebih konsisten.

Menurut masyarakat, kotoran ayam tidak boleh dibiarkan menumpuk atau terbuka dalam waktu lama. Limbah peternakan juga diharapkan dikelola pada tempat yang sesuai agar tidak menimbulkan bau, mengundang lalat, maupun mengganggu lingkungan sekitar.

Selain itu, area sekitar kandang dan saluran air dinilai perlu dibersihkan secara berkala. Genangan, sisa pakan, dan material organik lainnya juga perlu mendapat perhatian agar tidak menjadi sumber berkembangnya lalat.

Masyarakat meminta pihak peternak melakukan introspeksi terhadap sistem pengelolaan kandang. Apabila terdapat kekurangan dalam proses perawatan maupun pengendalian limbah, warga berharap segera dilakukan perbaikan tanpa harus menunggu keluhan kembali mencuat.

"Jangan saling lempar soal kandang ini milik siapa. Yang kami minta adalah tanggung jawab dan solusi. Kalau kandang dirawat sesuai SOP, tentu lalat yang banyak ini bisa dicegah sehingga tidak terus meresahkan masyarakat," ujar warga.

Warga menegaskan keberatan tersebut bukan ditujukan untuk menghambat kegiatan usaha peternakan. Masyarakat memahami bahwa usaha peternakan merupakan bagian dari kegiatan ekonomi, namun pelaksanaannya diharapkan tetap memperhatikan kebersihan, lingkungan, dan kenyamanan masyarakat sekitar.

Karena itu, warga meminta pemilik usaha maupun pengelola kandang memiliki komitmen yang jelas terhadap pengelolaan peternakan. Persoalan mengenai kepemilikan atau pengelolaan kandang dinilai tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan keluhan masyarakat.

Warga juga berharap pihak pengelola memiliki jadwal pembersihan kandang dan pengawasan lingkungan yang jelas. Dengan pengelolaan yang rutin, potensi gangguan diharapkan dapat diketahui dan ditangani sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Selain pembenahan internal, masyarakat meminta adanya komunikasi terbuka antara pengelola peternakan dengan warga sekitar. Komunikasi tersebut dinilai penting untuk menyampaikan keluhan maupun perkembangan penanganan secara langsung.

Masyarakat juga meminta Pemerintah Desa Ujung Batu Timur, pihak keamanan, tokoh masyarakat, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rokan Hulu dapat memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut.

Warga berharap musyawarah lanjutan segera digelar dengan melibatkan pemilik usaha, pengelola kandang, masyarakat, pemerintah desa, serta instansi terkait.

Dalam musyawarah tersebut, masyarakat menginginkan adanya kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab terhadap operasional kandang, mekanisme pengelolaan kebersihan, pengendalian lalat, serta pengelolaan limbah peternakan.

Warga juga berharap hasil musyawarah tidak hanya menjadi kesepakatan di atas kertas. Pelaksanaannya perlu dipantau sehingga setiap komitmen yang telah disampaikan dapat benar-benar dijalankan.

Apabila diperlukan, masyarakat meminta instansi terkait melakukan pemeriksaan lapangan untuk melihat kondisi kandang, sistem pengelolaan limbah, serta kondisi lingkungan di sekitar lokasi peternakan.

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi langkah perbaikan sekaligus memberikan kejelasan mengenai tindakan yang perlu dilakukan agar gangguan tidak kembali terjadi.

Warga menilai penyelesaian persoalan membutuhkan komitmen berkelanjutan. Penanganan sesaat dinilai belum cukup apabila setelah kondisi mereda, gangguan kembali muncul.

Masyarakat berharap pihak peternak menjadikan persoalan tersebut sebagai bahan evaluasi dan introspeksi. Pembenahan pengelolaan kandang dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memastikan aktivitas peternakan tidak mengganggu masyarakat sekitar.

Bagi warga, persoalan utama bukan sekadar mengenai siapa yang memiliki kandang, tetapi adanya pihak yang bertanggung jawab terhadap seluruh proses pengelolaan.

Warga berharap peternak segera berbenah dan menjalankan pengelolaan kandang secara lebih disiplin, terbuka, serta konsisten. Dengan demikian, kegiatan usaha peternakan tetap dapat berjalan, sementara kenyamanan masyarakat dan kondisi lingkungan di sekitar kandang juga tetap terjaga. (DN.0016)

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Gangguan Lalat Berulang, Peternak Didesak Segera Berbenah
  • Gangguan Lalat Berulang, Peternak Didesak Segera Berbenah
  • Gangguan Lalat Berulang, Peternak Didesak Segera Berbenah
  • Gangguan Lalat Berulang, Peternak Didesak Segera Berbenah
  • Gangguan Lalat Berulang, Peternak Didesak Segera Berbenah
  • Gangguan Lalat Berulang, Peternak Didesak Segera Berbenah